wanita...subhanalloh!!
Yach itu dia, salah satu hamba Allah yang tercipta dengan kesempurnaan.
Pernahkah kita memperhatikan wanita (tentunya yang mahram kita) seperti saudara wanita kita atau ibu kita? Coba kita perhatikan. Tangan nya misalnya, tangan itu harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik.
Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan dan semua itu dilakukannya cukup dengan dua tangan”. O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”. Yah.. dia begitu lembut. Tapi kita belum bisa bayangkan kekuatan yang diberikan Allah kepadanya, agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa. Tidak hanya berpikir, wanita juga mampu bernegosiasi
Ia memang kelihatan lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya. Tapi itu bukanlah lelah atau rapuh… itu air mata, tahu kamu untuk apa air mata? Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.”
Wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Mampu berdiri melawan ketidakadilan. Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat Dan Cintanya tanpa syarat.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka. Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
Dia lupa, Betapa berharganya dia…!!!
Selengkapnya...
seperti biasa tiap jam 4 sore aku tlp azizah
hanya sekedar tanya,ngaji apa gak hari ini
"kak..ngaji sama sapa
yo dewean yah,soale fitri sama widya ga ngaji
lho...knp????
sakit yah....,ooo,adek diajak lho kak,
adek msh di rumah adek diana,
ya sudah hati2 yo kak"
keesokan harinya aku tlp dan daffa da di rumah
aku tetep pesen ma kakaknya
kalau ngaji adek diajak
biar pinter ngaji kayak kakaknya
malemnya...azizah tlp
"yah...td adek ga mau ngaji,
lho ga sampean ajak bareng paling,
aku td les yah,,,jd aku ga ngaji,ini lho adek mau ngomong
apa yah....*kyk wong ga duwe duso takone
td katanya ga ngaji yo mas,
iya...kan katanya disuruh bareng kakak
pancene ibu iku gak ngerti ya
mosok aku disuruh ngaji sama kaka
(kaka itu temenne mas daffa)
kan pesene ayah aku bareng sama kakak,bukan sama kaka
*aku ketawa dalam hati,pancene anak karo bapak podoae
pinter alasan
Selengkapnya...
Terlampau sering kau buat air mataku
Tak pernah kau tahu dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Ku bukan manusia yang tidak berfikir
Berulang kali kau lakukan itu padaku
Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku di sini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti
Teramat sering kau membuat patah hatiku
Kau datang padanya tak pernah kutahu
Kau tinggalkan aku disaat ku butuhkanmu
Cinta tak begini selama ku tahu
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu
Jika cinta dia jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia ku coba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati di hidupku
*belajar ikhlas....
untuk rasa cintaku padamu
Selengkapnya...
Dia memang hanya dia
Ku s’lalu memikirkannya
Tak pernah ada habisnya
Benar dia, benar hanya dia
Ku s’lalu menginginkannya
Belaian dari tangannya
Mungkin hanya dia
Harta yang paling terindah
Di perjalanan hidupku
Sejak derap denyut nadiku
Mungkin hanya dia
Indahnya sangat berbeda
Ku haus merindukannya
Ku ingin kau tahu isi hatiku
Kaulah yang terakhir dalam hidupku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada
Takkan pernah ada
Benar dia, benar hanya dia
Ku s’lalu menginginkannya
Belaian dari tangannya
Mungkin hanya dia
Indahnya sangat berbeda
Ku haus merindukannya
Ku ingin kau selalu di pikiranku
Kau yang selalu larut dalam darahku
Tak ada yang lain
Hanya kamu
Tak pernah ada
Takkan pernah ada
dedicate for someone... Selengkapnya...
"untuk yg tulis ini,smoga diberikan sabar dan tabah,,,,,semangath"
"Ayah. kenapa tiap sore Ayah mengajakku ke taman ini?"tanya Fara, gadis kecilku yang begitu manis semanis Mamanya, menatapku dengan matanya yang yah memang sangat mirip dengan istriku itu.'
"Karena Ayah ingin kamu selalu menatap senja itu nak. Lihatlah, dia begitu indah dan hangat. Begitu jingga,"jawabku dan sepertinya membuatnya bertambah bingung.
Melihat wajahnya yang lugu dan tingkahnya yang mempesona, membuatku rindu dengan senjaku, Ara. Rambutnya yang sedikit ikal, teruarai bersama angin. Senyumnya yang selalu menawan. Dan langkah kakinya yang memang tak jauh berbeda. Fara, satu-satunya ASAku.
Lima tahun hidup bersamanya, seakan lima tahun pula aku hidup bersama Ara.
"Ayah!"
"Kenapa Ayah melamun?"
"Ah tidak nak, Ayah hanya ingin menetap senja itu sebelum ia terbenam nanti. Lihatlah nak, jingganya menyejukkan hati bukan?"
Kembali matanya tertuju pada senja itu dengan senyum cantiknya
"Ayah, apakah Mama tau kita di sini? Lalu akankah dia marah karena kita selalu di sini tiap sore? Atau malah dia ingin bersama kita di sini menikmati senja? Mama di mana, Ayah?"tanya gadis kecilku penuh rasa.
"Tentu Mamamu akan senang melihat kita di sini. Karena dia juga ada di sini, bersama kita. Dan dia ingin selalu bersama kita di sini. Mamamu berada di suatu tempat yang indah yang tak jauh dari kita. Dia selalu bersama kita, Fara."
"Lalu kenapa aku tak pernah melihat Mama? Kenapa aku tidak pernah diijinkan untuk melihatnya. Aku ingin bertemu Mama, Ayah. Melihat senyumnya dan wajahnya yang kata Ayah manis dan mirip denganku."
"Eyang......!"teriak Fara memanggil eyang yang sedang menyulam sehelai kain berwarna hitam itu.
"Aduh-aduh...hati-hati sayang. Nanti eyang bisa kena jarum ini. Ada apa? Kenapa manyun?"tanya wanita yang sudah muali beruban itu sembari mengelus rambut panjang Fara.
"Eyang, Fara ingin bertemu Mama. Eyang maukah bercerita tentang Mama yang kata Ayah selau datang ketika senja di taman itu. Eyang mau kan?" rengek Fara manja.
Tertohok hati Eyang, mertuaku itu, mendengar rengekan Fara. Cucu pertama dan cucu satu-satunya yang akan ia dapat dari putrinya. Dengan wajah yang tak tentu arah, dan hati yang meracau, eyang pun tersenyum kecut.
"Fara,sayang, Mamamu pasti bahagia, melihatmu tumbuh menjadi gadis mungil dan cerdas. Dan Mamamu pasti juga akan sangat bahgia melihatmu tumbuh dewasa dan mampu membahagiakan Ayahmu. Mamamu itu wanita yang tangguh, hebat.Dan atu lagi, dia sangat bersahaja. Eyang ingin kau menuruni sikap dan sifat baik Mamanu, Fara."cerita Eyang, beranjak ke sebuah lemari dan mengambil beberapa album foto.
"Apa itu Eyang?"tanya Fara lugu.
"Ini album kenangan yang Mamamu punya,sejak ia lahir sampai akhirnya harus meninggalkan kita di sini. Lihatlah, ini Mamamu."sembari membuka album foto itu halaman per halaman Eyang bercerita tentang Ara.
"Wah, Mama manis sekali Eyang. Tapi Mama gendut..hihihi."tawa Fara yang tak jauh berbeda dengan istriku satu-satunya dan tetap istriku satu-satunya.Ara.
"Ayah, Ibu, aku ingin menikah sebelum akhirnya aku nanti mati. Aku ingin meninggalkan seorang cucu nutuk kalian,"pinta Ara enam tahun silam pada mertuaku. Yah aku tahu karena ia selalu bercerita tentang asanya. Termasuk dilamar dan menikah denganku.
Memang masih sangat belia ia. Dan aku, memang masih belum punya nyali untuk menikahinya. Namun melihatnya wajahnya begitu sulit untk berkata tidak. Begitu juga calon mertuaku saat itu.
Dengan penuh rasa khawatir, kuberanikan diriku untuk memohon pada orang tuaku untuk segera melamar Ara. Ditolak. Yah itu yang pertama kalinya kudapatkan. Namun, tekadku untuk dan demi Ara telah bulat. Memohon dan terus memohon, hingga akhirnya, orang tuaku merestuinya. Dengan segala yang kupunya, aku berani menikahi Ara, malaikat senja kecilku.Lalu, bagaimana kuliahku dan kuliahnya? Peduli setan..!! Ini semua demi Ara. Ara, gadis yang selalu ada dalam imajinasiku.
"Ayah...Ayah... Mama cantik sekali dengan baju ini. Apakah Ayah masih menyimpannya. Kalu masih, aku ingin memakainya kelak ketka aku sudah dewasa. Pasti aku akan sama cantiknya denan Mama."gayanya yang centil memnag sangat mirip dengan Ara.
"Oh ya.. Tentu saja sayang. Ayah masih menyimpan semua kenangan tentang Mamamu. Karena memang Mamamu ingin melihatmu sama seperti Mamamu."
"O.iya Ayah, kapan kita menjenguk Mama? Aku ingin melihatnya dan berdoa untuknya. Biar Allah mengembalikan Mama pada kita. Dan nanti kita akan menikmati senja dan hujan bersama. Pasti Mama senang."
"Tentu Fara sayang, tentu. Mama akan sangat bahagia melihatmu selalu tersenyum dan berdoa untuknya."
"Ayah, aku ngantuk sekali,"ucapnya lembut. Sesekali mengusap matanya yang memerah karena kantuk yang tak tertahankan.
"Sini sayang, cepat tidur. Memang sudah waktunya tidur. Nanti Maamamu akan marah melihatmu belum tidur jam segini."
Melihatnya tersenyum manis sebelum akhirnya terlelap dalam buaian mimpinya mebuatku teringat akan Ara di hari terakhirnya. Ketika malaikat mungilku datang di dunianya yang baru. Ketika senja benar-benar tunjukkan keindahannya dan jingganya. Dengan rintikan hujan yang menyusul seketika matahari terbenam.
"Arfara. Beri malikat kecil kita nama Arfara, Ayah."pintanya setelah berjuang melahirkan putri mungilku itu.
"Karena aku ingin, aku selalu berada di jiwanya, dan bisa hidup bersama kalian di sini. Aku tak pernah rela meninggalkan kalian. Dan aku juga tak akan membiarkanmu menikmati senja dan hujan hanya bersama gadis mungil kita."
"Ayah... Apakah Ayah terbangun karena Mama datang?" suara parau gadis kecilku si tengah doaku malam itu membuatku terhenti mengenang Ara.
"Fara, kenapa kau terbangun? Apakah Ayah mengganggu tidurmu? Cepat tidur lagi, ini masih terlalu dini untuk bangun, sayang."
"Eem..Whoooaaamm."kembali pulaslah ia berbalut mipi tentang Mamanya.
Oh pagi ini begitu hangat. Pekerjaanku sepertinya telah menantiku dan merindukan sentuhanku. Seperti aku merindukan Ara.
"Fara,cepat sarapan. Atu kamu kan terlambat sekolah."ibu mertuaku yang cukup sabar menggantikan Ara sebagai ibu dari gadis kecilku itu.
"Iya, Eyang."lariannya yang lucu dan selau akan menbuat orang tertawa itu pun turut mengawali hariku kali ini.
"Ayah, nanti sore sebelum menikmati senja yang jingga itu, kita jenguk Mama sebentar saja. Barang lima atau sepuluh menit saja. Mau ya Ayah..??"pinta gadis kecilku dengan muka yang lagi-lagi tak jauh berbeda ketika Ara merengek meminta sesuatu hal padaku.
"Tetu sayang, asal kamu dapat nilai bagus hari ini."
"Um,,baiklah. Aku akan dapat nilai sempurna hari ini. Benar kan Eyang?"
"Jelas, sayang. Fara gadis mungil yang cerdas. Seperti Mama."
"Yatta. Yatta."
"Heh, bahasa apa itu?"tanya eyang yang memang tak begitu tahu tentang bahasa Jepang. Tidak seperti Ara.Hehehe.
"Umm...Aku juga tidak tahu Eyang."
Gelak tawa yang sangat dirindukan Ara.
Ara. Lihat, Putri kecilmu kini tumbuh cerdas, sama persis seperti yang kau inginkan. Lihat, Ara. Dia sangat ingin bertemu denganmu. Ara. Aku sangat merindukanmu.
"Mari berangkat,"Fara begitu bersemangat hari ini.
Selengkapnya...
Kalau aku jadi orang toleran, itu karena Ayahku yang menjadi panutan;
Kalau aku jadi orang beriman, itu karena Ayahku yang menjadi imam;
Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi;
Kalau aku jadi orang cinta kasih, ...itu karena ayahku memberi tanpa pamrih;
Kalau aku bikin puisi ini karena ayahku yang rendah hati.
RAHASIA PERTAMA
"Pertama.Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orangyang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulanlebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakitsekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu.. Ibubagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).
Banyak orangsekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementarakepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan,diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunyasendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali.Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahalibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.
Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.RidhoAllah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulamauntuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau mengambilnapas sejenak.
RAHASIA KEDUA
"Kemudian yang kedua,"beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allahberjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipatganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi.Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita darimarabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yangbanyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik,ilmu, kesempatan, dan lain-lain.
Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnyaAnda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yangbaik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baikmemberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uangkertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan duatangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk(menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akanterketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaikuseperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengankelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.
Banyak orang yangkeliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yangmenghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinyasendiri.
Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalandengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu.Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus danmemberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Sayalihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.
RAHASIA KETIGA
"Allahberjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidakdisangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasiaketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itucepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu adajalannya."
"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kiraartinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nyajalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidakdiduga-duga" , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).
"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.
"Ya,bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa,menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akanmengirim rejeki itu datang untuk kita.
"Banyaklah menolongorang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yangkesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat sayaberpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidakdisangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akanmemberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."
"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.
"Ya,walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkindompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jikaAnda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."
"Walauitu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki,datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, ataupura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yangkatanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,
" sayabertanya lagi."
Ya walau orang itu cuma berpura-pura sepertiitu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak sukamelakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisabekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan,namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan.Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimiperbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."
RAHASIA KEEMPAT
Wah,makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidakmenyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yangbegitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dariempat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.
"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".
Hm...ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuatjanji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkanwanita menunggu? Seperti di film-film saja.
"Maksudnya begini.
Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baikdi saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untukmencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dankesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilanyang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda danmendukung segala usaha Anda untuk berhasil."
"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.
"Banyakorang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalumenikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yangperempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagidiam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasanganhidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoauntuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Andameninggalkannya. Atau Anda menduakannya.
"Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.
"Banyakorang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak,lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketikamerasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnyauangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena halseperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punyaandil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.
Selengkapnya...
