"untuk yg tulis ini,smoga diberikan sabar dan tabah,,,,,semangath"
"Ayah. kenapa tiap sore Ayah mengajakku ke taman ini?"tanya Fara, gadis kecilku yang begitu manis semanis Mamanya, menatapku dengan matanya yang yah memang sangat mirip dengan istriku itu.'
"Karena Ayah ingin kamu selalu menatap senja itu nak. Lihatlah, dia begitu indah dan hangat. Begitu jingga,"jawabku dan sepertinya membuatnya bertambah bingung.
Melihat wajahnya yang lugu dan tingkahnya yang mempesona, membuatku rindu dengan senjaku, Ara. Rambutnya yang sedikit ikal, teruarai bersama angin. Senyumnya yang selalu menawan. Dan langkah kakinya yang memang tak jauh berbeda. Fara, satu-satunya ASAku.
Lima tahun hidup bersamanya, seakan lima tahun pula aku hidup bersama Ara.
"Ayah!"
"Kenapa Ayah melamun?"
"Ah tidak nak, Ayah hanya ingin menetap senja itu sebelum ia terbenam nanti. Lihatlah nak, jingganya menyejukkan hati bukan?"
Kembali matanya tertuju pada senja itu dengan senyum cantiknya
"Ayah, apakah Mama tau kita di sini? Lalu akankah dia marah karena kita selalu di sini tiap sore? Atau malah dia ingin bersama kita di sini menikmati senja? Mama di mana, Ayah?"tanya gadis kecilku penuh rasa.
"Tentu Mamamu akan senang melihat kita di sini. Karena dia juga ada di sini, bersama kita. Dan dia ingin selalu bersama kita di sini. Mamamu berada di suatu tempat yang indah yang tak jauh dari kita. Dia selalu bersama kita, Fara."
"Lalu kenapa aku tak pernah melihat Mama? Kenapa aku tidak pernah diijinkan untuk melihatnya. Aku ingin bertemu Mama, Ayah. Melihat senyumnya dan wajahnya yang kata Ayah manis dan mirip denganku."
"Eyang......!"teriak Fara memanggil eyang yang sedang menyulam sehelai kain berwarna hitam itu.
"Aduh-aduh...hati-hati sayang. Nanti eyang bisa kena jarum ini. Ada apa? Kenapa manyun?"tanya wanita yang sudah muali beruban itu sembari mengelus rambut panjang Fara.
"Eyang, Fara ingin bertemu Mama. Eyang maukah bercerita tentang Mama yang kata Ayah selau datang ketika senja di taman itu. Eyang mau kan?" rengek Fara manja.
Tertohok hati Eyang, mertuaku itu, mendengar rengekan Fara. Cucu pertama dan cucu satu-satunya yang akan ia dapat dari putrinya. Dengan wajah yang tak tentu arah, dan hati yang meracau, eyang pun tersenyum kecut.
"Fara,sayang, Mamamu pasti bahagia, melihatmu tumbuh menjadi gadis mungil dan cerdas. Dan Mamamu pasti juga akan sangat bahgia melihatmu tumbuh dewasa dan mampu membahagiakan Ayahmu. Mamamu itu wanita yang tangguh, hebat.Dan atu lagi, dia sangat bersahaja. Eyang ingin kau menuruni sikap dan sifat baik Mamanu, Fara."cerita Eyang, beranjak ke sebuah lemari dan mengambil beberapa album foto.
"Apa itu Eyang?"tanya Fara lugu.
"Ini album kenangan yang Mamamu punya,sejak ia lahir sampai akhirnya harus meninggalkan kita di sini. Lihatlah, ini Mamamu."sembari membuka album foto itu halaman per halaman Eyang bercerita tentang Ara.
"Wah, Mama manis sekali Eyang. Tapi Mama gendut..hihihi."tawa Fara yang tak jauh berbeda dengan istriku satu-satunya dan tetap istriku satu-satunya.Ara.
"Ayah, Ibu, aku ingin menikah sebelum akhirnya aku nanti mati. Aku ingin meninggalkan seorang cucu nutuk kalian,"pinta Ara enam tahun silam pada mertuaku. Yah aku tahu karena ia selalu bercerita tentang asanya. Termasuk dilamar dan menikah denganku.
Memang masih sangat belia ia. Dan aku, memang masih belum punya nyali untuk menikahinya. Namun melihatnya wajahnya begitu sulit untk berkata tidak. Begitu juga calon mertuaku saat itu.
Dengan penuh rasa khawatir, kuberanikan diriku untuk memohon pada orang tuaku untuk segera melamar Ara. Ditolak. Yah itu yang pertama kalinya kudapatkan. Namun, tekadku untuk dan demi Ara telah bulat. Memohon dan terus memohon, hingga akhirnya, orang tuaku merestuinya. Dengan segala yang kupunya, aku berani menikahi Ara, malaikat senja kecilku.Lalu, bagaimana kuliahku dan kuliahnya? Peduli setan..!! Ini semua demi Ara. Ara, gadis yang selalu ada dalam imajinasiku.
"Ayah...Ayah... Mama cantik sekali dengan baju ini. Apakah Ayah masih menyimpannya. Kalu masih, aku ingin memakainya kelak ketka aku sudah dewasa. Pasti aku akan sama cantiknya denan Mama."gayanya yang centil memnag sangat mirip dengan Ara.
"Oh ya.. Tentu saja sayang. Ayah masih menyimpan semua kenangan tentang Mamamu. Karena memang Mamamu ingin melihatmu sama seperti Mamamu."
"O.iya Ayah, kapan kita menjenguk Mama? Aku ingin melihatnya dan berdoa untuknya. Biar Allah mengembalikan Mama pada kita. Dan nanti kita akan menikmati senja dan hujan bersama. Pasti Mama senang."
"Tentu Fara sayang, tentu. Mama akan sangat bahagia melihatmu selalu tersenyum dan berdoa untuknya."
"Ayah, aku ngantuk sekali,"ucapnya lembut. Sesekali mengusap matanya yang memerah karena kantuk yang tak tertahankan.
"Sini sayang, cepat tidur. Memang sudah waktunya tidur. Nanti Maamamu akan marah melihatmu belum tidur jam segini."
Melihatnya tersenyum manis sebelum akhirnya terlelap dalam buaian mimpinya mebuatku teringat akan Ara di hari terakhirnya. Ketika malaikat mungilku datang di dunianya yang baru. Ketika senja benar-benar tunjukkan keindahannya dan jingganya. Dengan rintikan hujan yang menyusul seketika matahari terbenam.
"Arfara. Beri malikat kecil kita nama Arfara, Ayah."pintanya setelah berjuang melahirkan putri mungilku itu.
"Karena aku ingin, aku selalu berada di jiwanya, dan bisa hidup bersama kalian di sini. Aku tak pernah rela meninggalkan kalian. Dan aku juga tak akan membiarkanmu menikmati senja dan hujan hanya bersama gadis mungil kita."
"Ayah... Apakah Ayah terbangun karena Mama datang?" suara parau gadis kecilku si tengah doaku malam itu membuatku terhenti mengenang Ara.
"Fara, kenapa kau terbangun? Apakah Ayah mengganggu tidurmu? Cepat tidur lagi, ini masih terlalu dini untuk bangun, sayang."
"Eem..Whoooaaamm."kembali pulaslah ia berbalut mipi tentang Mamanya.
Oh pagi ini begitu hangat. Pekerjaanku sepertinya telah menantiku dan merindukan sentuhanku. Seperti aku merindukan Ara.
"Fara,cepat sarapan. Atu kamu kan terlambat sekolah."ibu mertuaku yang cukup sabar menggantikan Ara sebagai ibu dari gadis kecilku itu.
"Iya, Eyang."lariannya yang lucu dan selau akan menbuat orang tertawa itu pun turut mengawali hariku kali ini.
"Ayah, nanti sore sebelum menikmati senja yang jingga itu, kita jenguk Mama sebentar saja. Barang lima atau sepuluh menit saja. Mau ya Ayah..??"pinta gadis kecilku dengan muka yang lagi-lagi tak jauh berbeda ketika Ara merengek meminta sesuatu hal padaku.
"Tetu sayang, asal kamu dapat nilai bagus hari ini."
"Um,,baiklah. Aku akan dapat nilai sempurna hari ini. Benar kan Eyang?"
"Jelas, sayang. Fara gadis mungil yang cerdas. Seperti Mama."
"Yatta. Yatta."
"Heh, bahasa apa itu?"tanya eyang yang memang tak begitu tahu tentang bahasa Jepang. Tidak seperti Ara.Hehehe.
"Umm...Aku juga tidak tahu Eyang."
Gelak tawa yang sangat dirindukan Ara.
Ara. Lihat, Putri kecilmu kini tumbuh cerdas, sama persis seperti yang kau inginkan. Lihat, Ara. Dia sangat ingin bertemu denganmu. Ara. Aku sangat merindukanmu.
"Mari berangkat,"Fara begitu bersemangat hari ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Post a Comment